Facebook

Rabu, 03 Februari 2016

On Februari 03, 2016 by PuriAreta in ,     No comments

Beberapa hari lalu saya naik angkutan umum Mikrolet untuk mengambil kaca mata baru yang sudah jadi di sebuah optik di daerah Matraman, Jakarta Timur. Saat Mikrolet baru saja keluar dari Terminal Kampung Melayu, tiba-tiba saja masuk seorang pengamen lelaki berbadan langsing. Usianya sekitar 25 tahun. Dandanannya mirip anak punk yang identik dengan pakaian/celana panjang serba hitam, rambut gondrong, dan memakai anting di telinga. Pengamen berkulit coklat ini membawa gitar kecil atau ukulele. Yang membuat saya sedih luar biasa adalah dia membawa seorang bayi berusia sekitar 6 bulan. Bayi itu sedang tidur nyenyak. Bayi digendong si pengamen memakai kain batik.

“Permisi Bapak, Ibu, Tante. Saya terpaksa mengamen untuk membeli susu anak saya,” kata pengamen itu.

Saya tidak ingat dia menyanyikan lagu apa, sebab saya hanya memperhatikan si bayi. Bertanya dalam hati, apakah si bayi menangis saat si pengamen bernyanyi dengan iringan musik ukulele itu. Ternyata tidak, si bayi tetap tertidur pulas. Kemudian saya mencoba melihat ke arah wajah si pengamen, sekedar ingin tahu atau lebih tepatnya menduga-duga apakah si pengamen ini ayah kandung si bayi ini? Kalau ya, mengapa tidak diberikan saja kepada istrinya agar anaknya itu tidak perlu dibawa-bawa ke jalanan yang panas dan terik, plus banyak polusi. Tentu ada alasannya mengapa si bayi diajak mengamen. Segala dugaan buruk tentang si pengamen yang mengeksploitasi bayi agar orang iba, kasihan,  cepat-cepat saya buang dari pikiran saya.  

Di dalam Mikrolet hanya ada 4 penumpang. Di hadapan saya duduk seorang ibu tua memakai kaos krem dan membawa tas lusuh ukuran besar terbuat dari kain. Di samping saya seorang ibu muda dengan dandan rapi dan wangi. Di samping supir ada seorang penumpang lelaki.

Sebelum menyanyikan lagu, pengamen membagi-bagikan amplop kecil warna putih yang sudah kumal dan lusuh kepada penumpang. Saya perhatikan si ibu tua menyelipkan selembar uang di amplop, entah berapa nilai uangnya saya tidak tahu. Saya juga menyelipkan uang dalam amplop. Syukurlah ada dua amplop terisi uang. Walaupun tidak banyak, semoga dapat membantu.

Selesai nyanyi, pengamen itu pun turun dari Mikrolet sambil mengucapkan terimakasih. Saya tidak sampai hati memotret pengamen yang menggendong bayi itu.  

Saya bertanya dalam hati, mengapa ibu tua di hadapan saya memberikan uang kepada pengamen itu. Tidakkah dia curiga bahwa bayi dalam gendongan itu adalah bayi yang disewa untuk mengamen alias bukan anak kandungnya. Mungkin rasa iba dan kasihan lebih mendominasi hati si ibu tua sehingga dia tidak memikirkan tentang hal-hal negatif yang dilakukan si pengamen untuk mendapatkan uang.

Mengapa pula wanita muda di samping saya tidak bergeming sedikit pun untuk menyelipkan uang ke dalam amplop? Saya mencoba berpikir positif saja, mungkin wanita ini tidak punya uang kecil, atau uangnya hanya pas-pasan untuk naik angkutan umum ini.

Memang ada yang menganjurkan agar jangan memberi uang kepada pengemis, pengamen, dan gelandangan agar jumlah mereka tidak semakin banyak, agar pengemis dan gelandangan tidak dijadikan profesi.  Dengan cara ini maka diyakini akan membuat pengamen, gelandangan, dan pengemis akan kapok, akan jera, sehingga kembali pulang ke kampung halaman atau mencari pekerjaan lain (padahal pulang kampung tidak punya    rumah; mau kerja tapi tidak ada lowongan; ingin dagang tidak punya modal dagang apalagi sawah). Benarkah semudah itu menghilangkan angka pengemis dan gelandangan di kota-kota besar, khususnya di Jakarta? Saya yakin tidak!

Harus dilihat akar permasalahannya apa sehingga ada kaum gelandangan, pengamen, dan pengemis. Sumber permasalahannya adalah kemiskinan. Mengapa orang menjadi miskin? Orang menjadi miskin karena tidak punya uang.

Orang menjadi miskin karena tidak punya uang. Jadi uang adalah akar permasalahan mengapa ada orang sampai menjadi gelandangan dan pengemis. Bukankah segala sesuatu di dunia ini harus memakai uang? Tidak punya uang maka tidak bisa membeli tanah untuk berkebun dan membuat rumah. Mau membuat rumah harus membeli bahan bangunan dan kayu di toko bangunan, juga harus membayar tukang bangunan (per orang Rp200.000 sehari). Mau makan harus membeli di warung makan atau membeli beras serta lauk pauk di pasar, serta membeli gas maupun minyak tanah untuk memasak. Belum lagi kebutuhan sandang dan uang sekolah/kuliah anak-anak yang tidak sedikit.

Siapa yang membuat uang? Yang membuat uang adalah pemerintahan duniawi, penguasa dunia. 

Saat Adam dan Hawa diciptakan dan kirim ke bumi, Tuhan Yang Maha Esa tidak memberikan uang kepada mereka untuk hidup  selama di bumi. Tuhan hanya memberikan alam sebagai sumber kebutuhan hidup manusia.

Uang dibuat bukan untuk mempermudah transaksi  jual beli, ini adalah teori ekonomi dunia barat.  Kenyataannya uang dibuat untuk mengendalikan umat manusia agar seluruh hidupnya habis untuk mencari uang. Uang yang terkumpul milik perorangan ini kemudian di tabung di bank. Bank memutarnya lagi untuk bisnis lain dengan harapan mendapatkan keuntungan bunga pinjaman. Yang diuntungkan siapa? Tentu pemilik bank dan para pengusaha sebagai rekanan bisnis pihak bank.  Akibatnya yang kaya semakin kaya (baca: banyak uang), dan yang miskin semakin tidak punya kesempatan hidup layak sebagai manusia (cukup sandang, pangan, dan rumah).

Semula, penduduk nuswantara jaman dahulu tidak mengenal uang sebagai alat jual-beli. Sistem transaksi ekonomi waktu itu menggunakan sistem barter, yaitu barang ditukar dengan barang yang nilainya sebanding sehingga tidak ada yang dirugikan. Maka saat itu, tidak ada penduduk nuswantara yang miskin. Ukuran kemakmuran dan kebahagiaan bukan uang sehingga tujuan hidup para leluhur bukan mencari uang. Tujuan hidup jaman dahulu lebih sederhana, yaitu memelihara ternak, menggarap sawah, menanam sayuran di kebun. Juga menanam kayu jati, pohon bambu, dan pohon kelapa yang kelak bisa dijadikan bahan baku utama pembuatan rumah.

Di jaman kuno, leluhur kita tidak mengenal sistem sekolah modern seperti jaman sekarang. Namun mereka tetap merasa bertanggungjawab mengajarkan pengetahuan akhlak dan budi kepada anak-anak mereka. Selain itu anak-anaknya juga dianjurkan mendatangi kaum cendikiawan, ulama, resi atau pendeta. Saat itu para orang pintar ini (kaum cendikiawan, ulama, resi atau pendeta) tidak meminta bayaran alias gratis. Ilmu pengetahuan tidak dikomersilkan. Mereka berbagi ilmu dan pengetahuan dengan ikhlas. Sebagai tanda terimakasih, biasanya anak-anak membawa hasil bumi untuk para gurunya itu.



Senin, 01 Februari 2016

On Februari 01, 2016 by PuriAreta in     No comments

Hello moms. Apa kabar hari ini? Tentu kabarnya bahagia ya karena telah menjadi seorang ibu, memiliki anak-anak yang sehat dan manis.
Semua ibu pada umumnya merasa bahagia apabila telah memberikan seluruh waktu dan hidupnya untuk anak-anak. Pagi hari Mom sudah bangun lebih dahulu daripada anggota keluarga yang lain. Mandi, memasak dan menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga, membangunkan kids agar tidak terlambat ke sekolah, bagi yang masih punya baby kecil dan bagi ibu yang bekerja (di kantor/pabrik/toko/mengajar di sekolah-kampus) tentu lebih sibuk lagi ya.  
Pagi hari sibuk menyiapkan sarapan untuk seisi rumah, sayangnya kebanyakan para ibu lupa sarapan. Padahal makan pagi itu penting agar Mom tetap memiliki tenaga untuk mengurus anak-anak seharian.  
Ok, siang hari Mom pergi berbelanja ke pasar atau supermarket, sambil memikirkan menu sehat apa yang akan dimasak untuk anak-anak. Pulang ke rumah kembali ke dapur memasak hidangan makan siang, mencuci pakaian, membersihkan rumah, dan lain sebagainya.
Sore hari? Sebelum mandi Mom membersihkan rumah, menyirami tanaman di pot, menemani anak-anak pergi berenang, menemani anak-anak mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan guru di sekolahnya.
Malam hari apakah Mom bisa istirahat sejenak? Tetap saja sibuk ya, mengurus kids. Saat malam Mom berdiskusi atau ngobrol dengan anak-anak agar bisa mengetahui perkembangannya, siapa saja teman-temannya, belajar tentang iman kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan lain sebagainya. Nyaris waktu tidur kurang dari enam jam!
Wow, sibuk bukan? Ya, benar bahagia sekali menjadi ibu. Kasih ibu kepada anak-anak tanpa pamrih. Tiada keluh walaupun letih seharian mengurus rumah.
Apakah pernah Mom pernah merasa badan lelah, sangat mengantuk tapi tidak punya waktu tidur yang cukup? Badan yang lelah membuat kerja otak pun menjadi lambat. Ini artinya Mom sudah mulai kehilangan energi. Saat kehilangan energi maka aura kecantikan dari dalam seolah hilang.
Tahukah Mom, bahwa kecantikan seorang perempuan tidak hanya muncul atau terlihat saat memakai make-up atau bersolek di depan cermin berjam-jam? Berdandan saja tidak cukup agar terihat lebih cantik dan menarik. Kecantikan yang dipoles dengan make-up ibarat hanya topeng tanpa ekspresi.
Apa yang tidak kalah penting dari make-up agar membuat Mom terlihat menarik? Ada rahasianya loh Mom. Apa itu? “Energy Mom”.
Ya, Mom membutuhkan sesuatu yang baru yang dapat membuat hidup menjadi lebih bahagia, Mom membutuhkan energi agar sehat dan terlihat lebih energik, tidak lamban, tidak slow. Hidup yang tadinya sudah bahagia akan terasa bertambah bahagia lagi apabila Mom sadar bahwa walaupun sudah menjadi ibu-ibu tetap harus energik.
Saat Mom memiliki energi yang prima maka Mom akan terlihat lebih cantik walaupun sudah menjadi ibu-ibu.
Apa saja energi Mom yang hilang dan bagaimana mengembalikannya agar terlihat lebih cantik (tanpa mengandalkan make-up)?
On Februari 01, 2016 by PuriAreta in ,     No comments


We're From Moorea Island until to Africa

by: Puri Areta

I know i love you forever
Yes, every day i love you baby
No matter the seasons change on earth
My love never changes and everlasting for you
Baby, you have to understand in deep of my soul
You always stay in my soul, my heart, and my mind
You’re my everything in my life because you light me
O my lovely sun, i can feel your pure love never stop shining for me
Thank you very much because you have brought me to Moorea Island
I really liked the South Pacific Island and  I proud the Lord as The Creator
How about Africa? Please don't forget that we've just started and it is not yet finish

Kamis, 28 Januari 2016

On Januari 28, 2016 by PuriAreta in     No comments
Pukul 5.30 pagi Jembatan Cinta sudah ramai. Pengunjung ingin melihat matahari terbit di Jembatan Cinta.
Pernah dengar Pulau Tidung? Pulau Tidung kini telah menjadi alternatif wisata bahari populer bagi warga Jakarta. Pulau Tidung  terletak di gugusan Kepulauan Seribu di Teluk Jakarta.

Saat ini akses transportasi menuju pulau seluas 109 Ha tersebut sangat mudah. Waktu tempuh menggunakan kapal cepat speedboat dari Dermaga Marina Ancol hanya 1 jam. Selain itu tersedia juga transportasi kapal tradisional tujuan Pulau Tidung melalui Pelabuhan Muara Angke di Kelurahan Kapuk Muara Jakarta Barat dengan waktu tempuh 3 jam.

Selasa, 05 Januari 2016

On Januari 05, 2016 by PuriAreta in ,     No comments

Dengan Hati Ini

By: PuriAreta

Memahami senantiasa menyertai hati
Agar perlahan-lahan dapat merasakan
Kehangatan cahaya matahari di pagi hari
Yang sungguh nyata setia hadir bagi bumi

Begitulah aku membacamu dengan hati ini
Agar mata jiwaku bisa melihatmu seutuhnya
Aku menyelam jauh sampai ke dasar hatimu
Kini kutahu dikau pemilik hati setulus merpati

Rambut hitammu penuh kilau cahaya semesta
Tahukah dirimu, aku selalu rindu senyuman itu

Senin, 04 Januari 2016

On Januari 04, 2016 by PuriAreta in ,     No comments
Saat anak masih ada dalam rahim ibunya, dia ada bersama orang tuanya setiap waktu. Dalam buaian rahim ibu kandungnya maka si bayi aman terjaga selama ibunda dapat menjaga diri, menjaga emosi tetap stabil dengan bantuan doa-doa, dan memperhatikan suplai makanan yang dikonsumsinya sebab salah makan atau minum berakibat buruk pada si jabang bayi.

Setelah lahir, saat waktunya tiba, anak akan bersosialisasi dengan lingkungan baru di luar pagar rumahnya. Anak mulai senang bermain dengan teman sebaya sambil dijaga ketat oleh orang tua. Anak sekecil itu masih terlalu polos, belum mengenal bahaya. Orang tua sekedar menuntun dengan bahasa dan isyarat yang mudah dimengerti anak kecil.


Waktu tidak pernah berhenti berjalan, hingga tiada terasa anak mulai masuk ke dalam sistem buatan duniawi, apa itu? Itu adalah sekolah. Sekolah merupakan sebuah lembaga atau sistem yang dibuat manusia modern untuk mendidik manusia sejati menjadi manusia modern. Sesuatu yang nampak modern itu apabila tiada diimbangi dengan campur tangan orang tua di rumah maka akan membuat anak menjauh dari jati dirinya sebagai manusia sejati. Sangatlah penting orang tua teliti saat mencari sekolah dan mendaftarkan anak pada pengasuhan lembaga sekolah yang baik.

Hidup ini perlu keseimbangan, saat anak sudah sekolah di lembaga modern yang sangat duniawi, maka apabila anak kembali di rumah bersama keluarga perlu mendapatkan penyegaran spiritualitas. Jangan terlalu tergesa mendoktrin hal "berat" pada anak sebab dunianya adalah sementara masih dunia bermain.

Minggu, 03 Januari 2016

On Januari 03, 2016 by PuriAreta in , ,     No comments
Tahun Baru 2016 sudah mulai kita jalani sekarang. Bicara tentang tahun baru, di Jakarta ada kebiasaan unik sebagian masyarakatnya saat liburan di malam akhir tahun, yaitu kumpul bersama keluarga untuk makan bersama. Menunya biasanya adalah ikan bakar, ayam bakar, udang bakar, dan tidak ketinggalan jagung bakar. Untuk menambah selera makan, tersedia berbagai jenis sambal tradisional, saus cabai/tomat botol, kecap manis, dan terkadang mayonais.

Acara makan-makan ini bukan bertujuan untuk berpesta pora menyongsong datangnya tahun baru. Namun hanya sekedar berkumpul bersama family atau teman karena biasanya menjelang malam tahun baru kantor-kantor dan lembaga pendidikan libur serentak sehingga bisa kumpul secara lengkap di rumah.


Uniknya, acara bakar-bakar atau barbeque ini dilakukan secara bersama-sama, gotong royong. Ada yang membakar jagung, ada yang menyiapkan bumbu untuk ayam serta ikan bakar, ada yang mencuci ikan/ayam, membuat sambal, menyiapkan lalapan dan  lain sebagainya. Inilah kebersamaan yang selalu ditunggu-tunggu pada setiap akhir tahun.

Tidak penting tentang makna tahun baru, yang penting adalah waktunya kumpul dengan family, sahabat, teman, atau kekasih untuk makan bersama seadanya. Sebab nenek moyang asli nuswantara tidak pernah mengenal tradisi tahun baru. Saat matahari terbit di timur setiap pagi hari, maka itulah waktunya untuk memulai hari baru dengan kegiatan dan semangat baru. Pemikiran para leluhur lebih simpel dan tidak perlu menunggu hingga satu tahun untuk memperbaiki diri dan memotivasi diri sendiri. Para leluhur juga mengajarkan untuk introspeksi diri setiap hari dengan cara meditasi minimal 10 menit setiap harinya. Cara ini lebih bermanfaat bagi kesegaran jiwa raga daripada menunggu setahun untuk mengevaluasi diri sendiri.

PENULIS/AUTHOR :

Hi everybody. I'm Puri_Areta. Jika Anda ingin share artikel saya (sebagian atau keseluruhan) mohon jangan menghilangkan nama saya sebagai penulisnya dan sertakan alamat/link website saya. Mari kita saling menghargai Hak Atas Kekayaan Intelektual (HaKI). Hak Atas Kekayaan Intelektual adalah hak eksklusif seseorang atas karya ciptanya yang dilindungi oleh hukum ~ If you would like to share my article (or poem), please put my website address/link and don't remove my name as the author. Thanks for read my personal blog. Cheers :)