Anggrek Bulan

Cantiknya anggrek bulan. Memandangi setiap helai kelopaknya yang putih, semakin hati mengagumi Sang Pencipta. Aku terpesona... Read More

Kembang Teratai...My Lotus

Terimakasih cinta, hadirmu telah berikan banyak makna hidup. Seindah lotus yang berkaca pada beningnya air danau di sudut hati... Read More

Kembang Turi

Kembang turi, ada nostalgia indah tak terlupakan. Lezat dan segarnya makan nasi pecel kembang turi putih. Makan nasi pecel beralaskan bungkus daun pisang. Kuliner nuswantara sehatkan jiwa raga... Read More

My Dream, Menjadi Orang Desa

Ini beberapa buah lokal kebanggaan Indonesia: apel malang, apel mana lagi, manggis, jeruk medan Kalau boleh memilih, saya ingin tinggal di desa. Nikmati waktu yang tenang di kebun... ...Read More

Sumba Island, Beautiful Indonesia

Sumba Island is one of the best alternative beach resorts in the world. So, after a vacation in Bali, try to come to Sumba. Well, Bali-Sumba only one hour by plane. Cheers... Read More

Kamis, 18 September 2014

I'm in The Universe


Di alam semesta
dan juga
di gugus bintang Bima Sakti nan luas,
aku bagai setitik debu yang menempel di bumi.

Namun cintaku kepadamu
memenuhi seluruh ruang
dan waktu di alam semesta.

Itulah sebabnya dirimu dapat merasakan
kehadiranku di jiwamu,
dimana pun engkau berada.

My dearest Kangmas Mio,
di mana pun dirimu berada,
cintaku bersama denganmu.

Sepasang Burung Merpati Falling in Love


Sepasang Burung Merpati Falling in Love

By: Puri Areta ~


Once upon a time
Sepasang burung merpati saling jatuh cinta
Berdua menjalani hari penuh rasa syukur kepadaNya
Terbang di langit biru memandang dunia dalam kasihNya

Siang hari sayap nan kokoh terbang mencari berkahNya di alam
Saat bulan ada di cakrawala malam, sepasang merpati satukan hati
Bahagia selamanya...menikmati malam bertabur kelip bintang
“Good night my handsome...I love you”
Merpati cantik terlelap dalam hangatnya dekap mesra asmara
Kecup lembut di pipinya menyingkap tabir jendela mimpi indah
“Selamat bobo...love you more”

Esok pagi saat matahari kembali menyinari bumi
Adalah hari baru untuk melukiskan lagi kenangan asmara
Semuanya jadi indah saat dua hati telah berpadu dalam cinta
Berdua mereguk berkah embun pagi, hilangkan dahaga rindu

Selasa, 16 September 2014

Memahami Karakter Siwa dan Parwati Melalui Serial Film Mahadewa di ANTV

~ Siwa dan Parwati ~

Film Mahadewa saat ini sedang ditayangkan hampir setiap hari (kecuali hari Minggu) mulai jam 22:00 WIB di layar televisi tanah air (ANTV). Sebelum menyaksikan serial film Mahadewa, ada pula tayangan film Mahabharata dan Ramayana (dimulai jam 9 malam atau 21:00 WIB). Film-film ini menurut saya bisa dijadikan alternatif atau pilihan yang cukup baik saat mengisi waktu luang/istirahat. 

Sebenarnya, saya sendiri jarang mengikuti kisah-kisah ini di ANTV karena keterbatasan waktu dan kerepotan lainnya yang sedang saya kerjakan. Namun apabila ada kesempatan, tentu saya akan dengan senang hati mengikuti kisah-kisah tersebut. Menyaksikan tayangan film-film asal India ini, hal pertama yang ingin saya ketahui adalah ingin lebih memahami alur cerita dan mengetahui siapa saja tokoh-tokoh dalam kisah Mahabarata dan Ramayana. Namun saat menyaksikan film ini, ternyata yang saya peroleh lebih dari itu, ada banyak kata-kata nasehat atau petuah yang dapat saya ambil hikmahnya (spiritnya) dan baik untuk direnungkan karena relevan dengan kehidupan insan manusia di bumi.

Khusus untuk serial film Mahadewa, saya belum lama menyaksikannya. Saya baru mulai menontonnya pada akhir Juli 2014.  Sehingga saya tak mengikuti alur kisah ini dari awal episode. Saat artikel ini saya buat, kisah Mahadewa sudah memasuki episode ke 90 dari 700 episode keseluruhannya.

Bagi masyarakat umum di tanah air Indonesia, kisah Kitab Mahabharata dan kisah Ramayana tidak terlalu asing didengar sebab dalam mata pelajaran di sekolah sesekali disinggung walaupun hanya sedikit saja. Selain itu, kisah Kitab Mahabharata dan kisah Ramayana seringkali dapat disaksikan dalam lakon sendratari dan juga pertunjukan kesenian wayang kulit di Jawa Tengah (dan juga Jawa Timur).  Bagaimana dengan kisah Mahadewa? Ya, agaknya masih asing di telinga orang awam seperti saya.

Mengapa film Mahadewa kini mulai mencuri perhatian saya? Sebab saya merasa ada spirit yang baik dalam film ini apabila merenungkannya.

Mahadewa merupakan serial film tv bergenre mitologi Hindu.  Judul asli film “Mahadewa” ini adalah “Devon Ke Dev...Mahadev”  yang artinya adalah  “Raja Para Dewa...Mahadewa.”

Tokoh sentral dalam film Mahadewa ini adalah Siwa. 

Kisah Mahadewa diambil dari Kitab Purana (Siva Purana). Menurut ajaran Hindu, apabila ingin membaca Veda sangat dianjurkan untuk mempelajari Purana (Siva Purana & Visnu Purana) dan Itihasa (Ramayana dan Mahabharata) terlebih dahulu. Sebab Purana dan Ithiasa adalah penjabaran dari Veda itu sendiri.

Dalam konsep Purana, Dewa Siwa dapatlah dikatakan sebagai dewa tertinggi (namun ditemui juga bahwa Kitab Purana yang satu dengan yang lainnya saling meninggikan dewa satu dengan lainnya).

Pada saat awal sebelum terjadinya kisah Ramayana, Dewa Siwa pernah sangat memuji dan mengagumi Dewa Wisnu. Kejadian ini sempat membuat istri Dewa Siwa yang bernama Parwati (di India disebut Parvati) bingung.

Inilah kata-kata Dewi Parwati dalam suatu percakapan dengan Dewa Siwa, suaminya.

Parwati : “Tuan Siwa menyembah Sri Rama (Sri Rama adalah penjelmaan atau manifestasi dari Dewa Wisnu yang turun ke bumi), Sri Rama pun menyembahmu. Kalian membuatku bingung…”

Suatu ketika Dewa Wisnu pun sangat mengagungkan Dewa Siwa. Ini terungkap dalam percakapan antara Wisnu dan Narad.

Wisnu : “Narad, pergi dan nyanyikanlah pujaan nama Dewa Siwa sebanyak 100 kali. Pikiranmu akan segera merasa bebas. Dan jangan lupa bahwa Tuanku Dewa Siwa adalah Tuhan-ku, beliau adalah Pujaan-ku, Beliau adalah segalanya.  Narad, tidak ada yang terkasih selain Tuanku Dewa Siwa. Siapa pun yang tidak diberkati oleh Dewa Siwa, mereka pun tidak akan aku berkati juga. Dewa Siwa adalah Kebenaran sejati. Beliau menakjubkan dan itulah sebabnya Siwa disebut Mahadewa.”

Dewa Siwa adalah Mahadewa. Saat alam semesta masih kosong (dalam keadaan hampa),  terlahirlah Dewa Brahma dan Wisnu. Kala itu Dewa Siwa memberikan anugerah kepada Dewa Wisnu bahwa di masa depan nanti Dewa Wisnu akan dipuja dan dipuji bahkan melebihi diriNya. Ini merupakan konsep Tri Murti Brahma-Wisnu-Siwa yang sebenarnya (satu tubuh, tiga diri), ketiganya adalah satu karena Dewa Siwa memecahkan dirinya menjadi Wisnu dan Brahma. Karena  semua berawal dari Siwa maka Siwa disebut sebagai Mahadewa. Inilah kepercayaan yang dipegang teguh umat Hindu dimana pun di dunia ini. Bahwa Tuhan sesungguhnya tetap hanya ada satu, tetapi membagi Dirinya sesuai tugas dan fungsinya. Adalah tidak tepat apabila beranggapan bahwa umat Hindu menyembah banyak Tuhan.

Dewa Siwa mempunyai kemampuan menghancurkan atau melebur alam semesta ini sebagai langkah/jalan bagi Dewa Brahma untuk memulai kembali membangun kehidupan yang baru atau memulai proses penciptaan.  Siwa adalah pertapa yang mengatur alam semesta.  Dalam agama Hindu, Dewa Siwa merupakan penari kosmis yang melakukan tarian Ilahi untuk menghancurkan alam semesta untuk memulai proses penciptaan. Dewa Siwa mempunyai tugas melebur segala sesuatu yang sudah tidak layak berada di dunia fana sehingga harus dikembalikan kepada asalnya. 

Dalam tradisi pewayangan Indonesia, Dewa Siwa dikenal dengan sebutan Batara Guru.

Salah satu benda suci yang dibawa Siwa kemana pun adalah Damaru. Damaru adalah sebuah alat musik serupa kendang berukuran kecil  yang menghasilkan suara bergetar. Damaru merupakan universal rhythm, di semesta. 

Damaru (pic http://en.wikipedia.org/wiki/Damaru)

Di seluruh India, bunyi atau suara yang dihasilkan oleh alat musik damaru saat dimainkan diyakini memiliki energi spiritual dari Siwa.

Damaru pernah dimainkan Parwati saat masih kecil.

Bentuk damaru adalah serupa dua buah segitiga yang saling bertemu di titik tengah.

Segitiga di bagian atas melambangkan procreativity laki-laki (lingga), dan representasi segitiga bagian bawah melambangkan procreativity perempuan (yoni). Secara simbolis, penciptaan dunia dimulai ketika lingga dan yoni bertemu di titik tengah damaru, dan kehancuran terjadi ketika mereka terpisah satu sama lain.

Itulah sekilas tentang jati diri Dewa Siwa yang menjadi tokoh sentral dalam film Mahadewa.

Di beberapa candi-candi Hindu yang memuja Siwa di Pulau Jawa juga sering ditemui simbol lingga dan yoni ini. Dalam agama Hindu, penggambaran Siwa selain sebagai manusia, juga digambarkan dalam bentuk lingga (kelamin lelaki) yang dilengkapi dengan Yoni sebagai kelamin wanita. Persatuan antara Lingga dan Yoni melambangkan kesuburan.  Jadi, “Lingga-Yoni” merupakan simbol Siwa.

Dalam Hindu, yoni merupakan penggambaran dari Dewi Uma/Sati yang merupakan salah satu sakti (istri) Siwa.

Sabtu, 13 September 2014

Pengalaman Betapa Takutnya Diikuti Lelaki Tak Dikenal



Peristiwa ini sebenarnya sudah lama, kejadiannya di awal tahun 2014 lalu, saat saya ingin membeli kembang di Pasar Kembang Rawa Belong, Jakarta Barat. Saya ke sana sendirian. Karena saya tak tahu persis dimana letak pasar kembang tersebut, maka saya meminta supir taksi yang mengantar saya berhenti di depan Universitas Nusantara (Binus). 

Kata orang, Pasar Kembang Rawa Belong letaknya tak jauh dari Binus. Rencananya, saya akan melanjutkan perjalanan dari depan Binus dengan naik ojek motor saja dengan pertimbangan bahwa tentu semua tukang ojek di situ tahu letak pasar kembang yang konon terbesar di Asia Tenggara itu.

Namun saya tak melihat pangkalan ojek di sekitar Binus. Akhirnya saya bertanya letak pasar kembang kepada salah seorang mahasiswa Binus yang kebetulan juga ada di halte bus. Ternyata menurut dia, memang sudah dekat, tapi saat saya naik taksi tadi, ternyata  sudah terlewat. Apabila dilihat dari jalan raya, pasar kembang tersebut tak akan terlihat karena letaknya masih masuk lagi ke dalam sebuah gang (gangnya cukup besar, kendaraan bisa masuk dua arah/dua jalur). Nama gangnya adalah Gang  Sulaeman atau tepatnya di Jalan Sulaeman No. 50 Rawa Belong, Jakarta Barat.

“Kakak mau beli kembang ya? Kalau Kakak mau ke Pasar Bunga Rawa Belong, kakak harus menyeberang jalan ini dan naik angkutan umum Mikrolet M11.”

“Ya. Terimakasih,” kataku sambil senyum-senyum sendiri.

Haha, saya senyum sendiri karena sedang berpikir sejenak mengapa dia menyebut saya ‘kakak’...bukan ibu...atau tante? Apakah karena mungkin wajah saya ini yang kelihatan masih imut seperti anak  mahasiswa  ya...haha. But thanks : )

Saya ingin naik Mikrolet M11 tetapi duduk di depan, duduk di dekat pak supir dengan maksud agar tidak terlewat dari Pasar Kembang Rawa Belong. Namun sayang, sore itu Mikrolet M11 yang lalu lalang di jalan semuanya dalam keadaan penuh penumpangnya.

Maka naiklah saya di salah satu  Mikrolet M11, duduk di bangku belakang. Saat baru duduk, saya langsung meminta kepada pak supir agar saya nanti diturunkan tepat di Jalan Sulaeman.

“Mau kemana?” tanya Pak Supir kepada saya.

“Mau ke Pasar Kembang Rawa Belong, Pak. Sudah dekat dari Binus ini ya?”
Belum lagi Pak Supir sempat menjawab pertanyaan saya, serta-merta seorang penumpang lelaki yang duduk tepat di depan saya menyela.

“Ya, betul. Sudah dekat. Saya juga mau ke Pasar Bunga Rawa Belong itu,” ujar lelaki tak dikenal itu sambil tersenyum kepada saya.

Dalam hati saya  agak jengkel, sebab saya tidak bertanya kepada lelaki itu.

“Pak Supir, pasar bunganya dekat ya?” tanya saya untuk meyakinkan karena malas saja apabila nanti terlewat lagi, sebab jalan dalam keadaan macet sekali.

“Ya, nanti Bapak turunkan di Gang Sulaeman. Jangan khawatir,” jawab Pak Supir.

“Terimakasih.”

Beberapa menit kemudian Mikrolet yang saya naiki sampai di depan Gang Sulaeman. Sayangnya saya belum melihat dimana letak pasar kembang yang saya cari itu.

Betul saja, lelaki tak dikenal itu juga turun dari mikrolet.

“Pasar bunganya masih sekitar 200 meter dari sini. Kita jalan kaki saja,” kata lelaki itu.

Uhhh, kita? Siapa yang dia maksud? Saya dan dia? Oh no, tidak! Pergi saja deh sendiri ke sana. Saya bisa jalan sendiri, gerutu saya dalam hati.

“Ayo saya antarkan.”

“Nanti saya ke sana sendiri saja, terimakasih,” kata saya mencoba bicara sekedarnya, berbasa-basi.

“Atau mungkin terlalu jauh ya? Tidak biasa berjalan kaki jauh. Apakah mau saya carikan tukang ojek?”

Halah, ini orang, masih saja kekeh tak mau pergi jauh. Saya clingak-clinguk mencari pangkalan tukang ojek, ternyata tak ada.

Aduh Mama, aduh Biyung. Apabila saya berdiri di jalan itu, lelaki itu juga tetap di situ. Kalau saja berjalan terus ke pasar kembang, malas saja sebab lelaki sok baik itu akan ikut berjalan bersama saya. Aduh beginilah rasanya tak nyaman, ibarat pribahasa mengatakan: maju kena, mundur kena.

Ya sudahlah, akhirnya saya putuskan jalan kaki saja, dengan niat berjalan secepat mungkin agar bisa menghindar sejauh mungkin dari si lelaki asing itu.

Yang membuat bertambah kesal, dengan percaya dirinya dia berusaha berjalan di samping saya sambil terus bercerita tentang bisnis toko bunganya yang ada di areal Pasar Kembang Rawa Belong. 

.

.
"Buku Puri Areta bersama Kompasianer". Judul: Jelajah Negeri Sendiri; Penerbit Bentang Pustaka. Dapat dibeli di Toko Buku Gramedia

Search puriareta.com

Memuat...